Eksistensi Tradisi Nyegara Gunung sebagai Landasan Pendidikan dalam Membangun Solidaritas Sosial Masyarakat Multikultural Nyame Sasak dan Nyame Bali di Desa Bukit, Karangasem
DOI:
https://doi.org/10.55583/jkip.v7i2.2140Keywords:
Solidaritas Sosial, Tradisi, Nyegara GunungAbstract
Dalam arus modernisasi yang semakin kuat, munculnya sifat individualisme dalam masyarakat menjadi tidak terbendung lagi, bahkan menyebabkan terjadinya khasus intoleran di dalam masyarakat heterogen. Namun, desa Bukit yang dikenal sebagai desa multikultur masih tetap mampu menjaga persatuan dan kesatuan masyarakatnya meskipun dihadapkan dengan perubahan zaman yang semakin cepat dan dinamis. Hal tersebut dikarenakan oleh tradisi Nyegara Gunung yang dilakukan setiap 1 tahun sekali dengan melibatkan seluruh masyarakat Hindu dan Islam yang berada di desa Bukit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keberadan tradisi Nyegara Gunung di desa Bukit, Karangsem, mengkaji bentuk-bentuk solidaritas sosial yang muncul dari pelaksanaan tradisi tersebut, serta potensinya sebagai bahan ajar pendidikan multikuktur di sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan melalui tahapan observasi, wawancara, dan studi dukumen. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan triangulasi data baik dari tehnik ataupun sumber yang didapatkan. Dalam menentukan informan, peneliti juga menggunakan tehnik Purpose Sampling yakni menentukan narasumber berdasarkan keilmuan atau keahliannya, serta menggunakan metode Snowball Sampling dalam menentukan informan selanjutnya berdasarkan rekomendasi dari informan sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian, keberadaan dari tradisi Nyegara Gunung merupakan tradisi yang dilakukan oleh umat Hindu (Nyame Bali) dan Islam (Nyame Sasak), yang mempunyai makna Ngaturang Sari Taun sebagai ungkapan rasa syukur atas anugrah Sang Pencipta terhadap segala hasil bumi di desa Bukit. Bentuk-bentuk solidaritas yang terbangun dari tradisi ini meliputi gotong royong, kerjasama lintas kelompok, rasa toleransi, bahkan rasa kebersamaan yang dipadukan dengan identitas kolektif. Hal ini menegaskan bahwa desa Bukit menjadi desa multikultur yang mampu membangun nilai harmonisasi dan solidaritas ditengah keberagaman, sehingga sangat relevan nilai-nilainya dijadikan sebagai bahan ajar dalam pendidikan multikultur di sekolah.
References
Ariawan, D. A. Y., Anggana, I. P. S., & Prayogi, P. A. (2025). Dimensi-Dimensi Yang Mendukung Taman Soekasada Ujung Sebagai Pariwisata Warisan Di Kabupaten Karangasem, Bali. Journal Of Tourism and Interdisciplynary Studies (JoTIS), 5(1), 102–112.
Arif, A. M. (2020). Perspektif Teori Sosial Emile Durkheim Dalam Sosiologi Pendidikan. Moderasi: Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial, 1(2), 1–14. https://doi.org/10.24239/moderasi.vol1.iss2.28
Badriyah, M. (2023). Implementasi Moderasi Beragama Di Desa Tegowangi Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri (Dalam Perspektif Solidaritas Emile Durkheim) (Doctoral dissertation, IAIN Kediri).
Fathoni, T. (2024a). Konsep Solidaritas Sosial dalam Masyarakat Modern perspektif Émile Durkheim. 6(2), 129–147. https://doi.org/10.37680/jcd.v6i2.6402
Fathoni, T. (2024b). Konsep Solidaritas Sosial dalam Masyarakat Modern perspektif Émile Durkheim. 6(2), 129–147. https://doi.org/10.37680/jcd.v6i2.6402
Idris, M., Nur, I., Syahrin, A. A., & Pradana, M. (2025). Symbolic Motivation Behind the Branding of “Warung Muslim” as a Religious Identity in Singaraja Bali. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, 21(1), 31–40. https://doi.org/10.23971/jsam.v21i1.8990
Kusuma, I. P. S. A., Mahadewi, N. M. A. S., & Aditya, A. K. (2024). Konstruksi Sosial Tradisi Usaba Dangsil di Desa Adat Bungaya, Kabupaten Karangasem. Socio-political Communication and Policy Review, 1(4), 45–64. https://doi.org/10.61292/shkr.141
Murdika, I. G. (2024). Analisis Nilai-Nilai dalam Tradisi Ngusaba Sambah di Desa Kastala, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem. ŚRUTI: Jurnal Agama Hindu, 4(1), 10.
Paramita, A. A. G. K. (2021). Filosofi Tirta Sebagai Air Suci Dalam Implementasi Upacara Dewa Yadnya. 12(2), Filsaafat Agama Hindu. https://doi.org/https://doi.org/10.33363/wk.v12i2.719
Ramadan, F., Purnawati, D. M. O., & Pageh, I. M. (2021). Etnis Sasak Di Banjar Bukit Tabuan Desa Bukit, Karangasem, Bali (Sejarah, Kerukunan, dan Pengintegrasian Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA. ejournal. undiksha.ac.id/JJPS, (3).
Sudarsana, I. K. (2018). Simbolisme Gender dalam Upacara Keagamaan Hindu Bali. Ganesha University Press.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung”. Alfabeta.
Wasistha, I. N. A. (2022). Merawat Ingatan Sejarah: Toleransi Nyama Bali Nyama Slam Di Desa Bukit, Karangasem, Bali. Jurnal Widya Citra, 3(April), 16–24. https://doi.org/https://doi.org/10.10101/juwitra.v3i1.1102
Yogantara, I. W. L. (2023). Hutan Suci Tenganan Pegringsingan: Kajian Teologi Hindu dalam Pelestarian Alam. Jayapangus Press Books, i-277.
Yuliani, N. P. S. (2019). Ritual Ziarah dan Koeksistensi Religius di Desa Bukit Karangasem. Jurnal Sosioreligius, 7(2), 88–101.







